Senin, 12 Mei 2014

Ulasan mengenai tragedi 12 Mei 1998








*Waktu itu 1998

Sejarah kelabu negeri ini pernah terjadi  di tahun 1998 silam. Ketika, Soeharto, presiden kala itu terpilih untuk kesekian kalinya. Masyarakat yang selama ini diam, menyimpan bara. Terjadilah amuk massa masif, terutama di wilayah Jawa.

Pada acara Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) 18 Desember 2012 lalu, Prabowo menyampaikan pernyataan yang cukup mengagetkan:

“Saya Letnan Jendral mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat yang hampir Kudeta, Menyesal juga saya nggak jadi Kudeta”

Pernyataan ini mungkin disampaikan tanpa ada niat sungguh-sungguh dari Prabowo, tapi pernyataan itu mengingatkan kita akan luka sejarah yang pernah terjadi di negeri ini [1]

*Target kerusuhan dan korban kerusuhan

Menurut hasil temuan Tim Gabungan Pencarian Fakta (TGPF), sasaran kerusuhan tersebut adalah pertokoan, fasilitas umum (pompa bensin, tanda-tanda lalulintas, dll), kantor pemerintahan (termasuk kantor polisi) yang menimbulkan kerusakan berat termasuk pembakaran gedung, rumah dan toko, serta kendaraan bermotor umum dan pribadi. Malangnya, yang menjadi target kerusuhan ini adalah kebanyakan etnis Tionghoa.

Dalam kerusuhan ini, banyak grafitti yang bernuansa rasial yang menggunakan simbol-simbol agama dan kelompok. Walaupun demikian, tidak ada nuansa konflik agama didalamnya karena memang simbol-simbol tersebut hanya untuk melindungi diri dari serangan perusuh. Teror dengan tulisan terhadap warga keturunan dapat dilihat dengan jelas karena terpampang di jalan-jalan, di pintu-pintu rumah penduduk serta di bangkai toko dan perkantoran yang hangus terbakar.

Nuansa rasial terlihat manakala dalam kerusuhan tersebut yang menjadi target utama adalah kelompok minoritas Tionghoa, walaupun terdapat juga beberapa toko dan perkantoran milik warga non Tionghoa yang dibakar dan dirusak. Pembakaran terjadi di sentra ekonomi terhadap pertokoan-pertokoan yang dikelola oleh orang-orang Tionghoa seperti di Glodok, Mangga dua dan rumah toko lainnya. Begitupun di luar daerah Jakarta, nuansa rasial tidak bisa dihilangkan begitu saja manakala untuk melindungi tokonya mereka menulis kata “Milik Pribumi dan/atau Muslim” [2]

*Menurut Ahok

Ketika tragedi 98 saat itu, istrinya, Veronica Tan sedang hamil lima bulan.Ahok mengatakan, sangat Jakarta memanas istrinya mengajaknya untuk pergi ke luar negeri. Sebab, istrinya sangat takut dengan kondisi yang bisa berdampak pada kondisi sang bayi.

Namun, Ahok dipesankan oleh ayahnya untuk tidak meninggalkan Indonesia. Sebab, ayahnya meramal Ahok akan menjadi orang besar yang dibutuhkan rakyat Indonesia.

"Akhirnya, saya putuskan untuk tidak mengungsi dan saya putuskan untuk tidak keluar dari Indonesia. Pokoknya pertahankan sampai titik darah penghabisan, karena yang harusnya keluar itu mereka yang tukang rusuh," kata Ahok , dalam peringatan tragedi Mei 1998 bersama Komnas
Perempuan, di Balaikota [3]

*Mereka yang diminta KOMNAS HAM untuk memberi penjelasan tragedi 98

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Siti Nurlaila mengatakan, Komnas HAM berencana memanggil mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen (Purn) Kivlan Zein. Langkah itu guna mendalami kejelasan atau mencari 13 korban penculikan yang hilang pada tahun 1998.

Menurut Siti, keluarga korban berhak mengetahui informasi yang diketahui oleh Kivlan. "Saat ini akan memanggil Pak Kivlan untuk memenuhi hak keluarga korban," ujar Siti seusai jumpa pers "Melawan Lupa Tragedi Berdarah Trisakti" di Restoran Bumbu Desa [4]

*Mengapa mereka di panggil?

Kivlan dianggap memiliki informasi tentang keberadaan korban hilang pada insiden tersebut. Untuk itu, Komnas HAM akan memanggil Kivlan guna memenuhi hak para keluarga korban.
Menurut Siti, selama ini nama Kivlan tidak pernah disebut-sebut dalam berkas yang dilayangkan ke Kejaksaan Agung. Nama Kivlan baru mengemuka saat ia muncul ke publik dan menyatakan dirinya mengetahui letak makam korban.

*Organisasi yang memperjuangkan Hak-Hak para korban 98

Salah satu LSM yang mendorong penyelidikan penculikan aktivis pada tahun 1998 dan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu adalah Gerakan Koalisi Masyarakat Sipil Melawan Lupa. Tuduhan politisasi atas gerakan ini tidaklah tepat mengingat gerakan tersebut lebih mempertimbangkan rasa keadilan dan kemanusiaan.

"Gerakan ini tidak ada kaitannya untuk menjatuhkan kelompok atau figur tertentu, apalagi saat ini bangsa Indonesia sedang bersiap memilih pemimpin dalam pemilihan umum presiden. Pemilu harus menjadi ajang seleksi pemimpin," kata Ketua Badan Pengurus Setara Institute Hendardi, di hadapan komisioner Komnas HAM [5]

*Ternyata ada beberapa kasus yang terjadi di tahn 98

"Dalam kerusuhan itu, terjadi penjarahan, pembakaran dan pengrusakan. Tapi ada juga kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk pemerkosaan dan penganiayaan," kata Komisioner Komnas Perempuan Andi Yentriyani kepada reporter Radio Australia Laban Laisila.

"Target yang diserang adalah etnik Tionghoa, tapi kaum miskin kota sebenarnya menjadi korban utama." [6]

*Harapan yang mewakili banyak orang

"Jangan diam, tuntaskan kasus pelanggaran HAM", "Anakku berjuanglah terus untuk keadilan," demikian tulis Ruyati [7]

"Ini menjadi momentum untuk mengingatkan kita, bahwa masih banyak persoalan yang berkaitan dengan hak asasi manusia yang belum diselesaikan," ujar thoby civitas univ.trisakti





[1] http://indocropcircles.wordpress.com/2013/10/24/prabowo-dan-pergerakan-pasukan-liar-tragedi-1998/
[2] http://badarbasi.wordpress.com/2012/08/24/fakta-kerusuhan-mei-1998/
[3] http://www.merdeka.com/peristiwa/cerita-ahok-saat-tragedi-mei-03998.html
[4] http://nasional.kompas.com/read/2014/05/08/1745388/Komnas.HAM.Siapkan.Surat.Pemanggilan.Kivlan.atas.Tragedi.Penculikan.1998
[5] Loc.it
[6] http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/radio/onairhighlights/korban-kekerasan-seksual-kerusuhan-mei-98-masih-bungkam/1133862
[7] http://news.detik.com/read/2014/05/12/110430/2579879/10/mengenang-tragedi-orang-hilang-mei-1998-lewat-mural

0 komentar:

Posting Komentar

Kritik Yang Membangun