Rabu, 14 Mei 2014

[ Opini ] 4 Kesalahan Bangsa Indonesia


Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berdasarkan Pancasila dan yang berBhinneka Tunggal Ika. Bangsa Indonesia merupakan sebuah bangsa yang besar karena keberbhinnekaan bangsa Indonesia itu sendiri. Kebhinnekaan itu tampak jelas dari berbagai macam suku, budaya, ras, agama, bahasa, terdiri dari pulau-pulau dan seni budaya yang ada di Indonesia. Walaupun berbhinneka tapi tetap Tunggal Ika. KeBhinnekaan itu disatukan oleh Pancasila sebagai dasar Negara. Sehingga Negara Indonesia menjadi Negara Kesatuan yang berbentuk Republik.

Nilai-nilai luhur Pancasila yang menyatukan dan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat dan terhormat di mata dunia internasional, karena hanya bangsa Indonesialah satu-satunya di dunia yang kaya akan perbedaan dan khasanah budaya bangsa. Perbedaan bukanlah suatu penghalang, namun dijadikan sebagai sebuah pembentuk kekayaan jiwa-jiwa yang indah untuk bersatu. Perbedaanlah yang menciptakan jiwa-jiwa persahabatan dan jiwa-jiwa toleransi sehingga dapat mengantarkan bangsa Indonesia menuju persatuan dan kesatuan bangsa yang utuh.

Jiwa-jiwa itu muncul karena bangsa Indonesia memiliki jiwa Ketuhanan yang kuat. Jiwa Ketuhanan yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai induk dan melahirkan jiwa-jiwa yang lainnya. Jiwa persahabatan dan toleransipun tercipta dan melahirkan jiwa-jiwa kemanusiaan yang adil dan beradap, jiwa-jiwa persatuan, jiwa-jiwa kedaulatan dan jiwa-jiwa yang berkeadilan sosial. Kebesaran jiwa-jiwa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia inilah yang membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat dan terhormat.

Begitu penting kebesaran jiwa dalam berkehidupan di sebuah Negara yang berBhinneka Tungggal Ika, sehingga dalam bait Lagu Kebangsaan Negara Indonesia “Indonesia Raya” disebutkan;
“……Bangunlah Jiwanya,……”
Melalui lagu kebangsaan ini pulalah yang mengobarkan semangat jiwa-jiwa dan pentingnya pembangunan jiwa-jiwa bangsa Indonesia untuk menciptakan Indonesia Raya. Pondasi dasar dalam membangun sebuah bangsa adalah melalui pembangunan jiwa-jiwa bangsa itu sendiri. Pembangunan jiwa diharapkan dapat mewujudkan cita-cita mulia proklamasi kemerdekaan Indonesia.
 
“Bangun Jiwa…, Bangun Raga…, Jaya… !!!”
Namun demikian, pembangunan Jiwa ini pulalah yang keberadaannya tidak diperhitungkan dan diabaikan oleh bangsa Indonesia, sehingga bangsa Indonesia membuat empat kesalahan besar dalam berkehidupan kebangsaan. Kesalahan besar yang diperbuat oleh bangsa Indonesia adalah dihilangkannya “nilai-nilai kunci dalam kehidupan bernegara yang berBhinneka Tunggal Ika” yang terlahir dari induk Jiwa-jiwa. Sehingga bangsa Indonesia dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa “kunci” dan “bebas” yang membuat gaya kehidupan yang jauh beda dan berbanding terbalik dengan nilai-nilai luhur jiwa Pancasila.

1.) Dihilangkannya Budaya Saling Menghargai antar Sesama

Bangsa Indonesia telah kehilangan budaya saling menghargai, sehingga yang ada adalah saling menyalahkan dan menganggap diri/kelompok mereka yang paling benar dan melecehkan keberadaan orang lain atau kelompok lain. Tidak menghargai hasil karya orang lain dan yang ada hanyalah mengatakan keburukan dan kejelekan orang lain saja dikarenakan adanya sifat iri hati dan dengki yang tumbuh subuh di jiwa-jiwa bangsa Indonesia. Tidak sedikitpun menilai orang lain atau kelompok lain dari sisi positif, yang hanya adalah selalu menilai orang lain atau kelompok lain dari sisi negatifnya saja. Selalu berfikir dari sudut pandang yang negatif yang merugikan orang lain dan diri sendiri, sehingga permusuhanlah yang tercipta.
 
2.) Dihilangkannya Budaya Saling Nasehat dan Menasehati antar Sesama

Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang “cuek bebek” dan masa bodoh terhadap orang lain dan atau kelompok lain. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa menghiraukan keberadaan orang lain. Jika kawan berbuat salah dibiarkan saja tanpa menghiraukan dan tanpa ada ditegur sedikitpun, padahal yang lebih salah lagi adalah kita sebagai orang yang tau tidak memberi tau orang yang belum tau dan membiarkan itu terjadi. Ketika orang lain salah, kelompok lain dan atau pemerintah, yang ada hanyalah cemoohan, ejekan, pembiaran dan bahkan makian yang mereka dapatkan. Yang ada di jiwa kita bangsa Indonesia saat ini dan lagi popular yang munculnya dari Ibu Kota Negara Republik Indonesia adalah “Lo Lo, Gue Gue”. Sehingga terciptalah dan tumbuh dengan subur jiwa-jiwa individualisme, egoisme dan isme-isme lainnya.
 
3.) Dihilangkannya budaya Saling Memaafkan antar Sesama

Dua kesalahan besar bangsa Indonesia yang telah dihilangkan di atas bertambah parah lagi. Karena hilangnya jiwa-jiwa tersebut akan melahirkan secara otomatis akan hilangnya jiwa-jiwa saling memaafkan. Jiwa-jiwa ini pulalah yang melahirkan jiwa-jiwa pendendam yang akhirnya saling menjatuhkan yang akan menimbulkan perpecahan dan merusak keutuhan persatuan berbangsa.
 
4.) Dihilangkannya Budaya Persatuan dan Kesatuan antar Sesama

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” sudah hilang karena kita bangsa Indonesia tidak memaknai dengan baik, tidak kita pedomani dan tidak kita amalkan falsafah-falsafah bangsa yang kita miliki. Falsafah bangsa sudah tidak penting lagi bagi kita bangsa Indonesia. Persatuan dan kesatuan sudah tidak penting lagi bagi kita. Kepentingan bersama di atas segala kepentingan sudah tidak lagi sebagai landasan kita dalam berkepentingan, yang ada hanyalah kepentingan pribadi, kepentingan kelompok yang lebih abadi.

Atas dasar itu, maka kita sebagai bangsa yang besar harus mengembalikan kembali jiwa-jiwa itu, karena dengan jiwa-jiwa itulah bangsa Indonesia akan dapat meneruskan cita-cita besar proklamasi. Dengan jiwa-jiwa itu lah bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat, hebat dan bermartabat lagi terhormat di mata dunia internasional. Dengan jiwa-jiwa itu pulalah akan terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jiwa-jiwa luhur ini harus kita kobarkan kembali, kita tanamkan di dalam jiwa seluruh rakyat Indonesia di seluruh Nusantara. Tokoh-tokoh bangsa, pemimpin-pemimpin bangsa, pemimpin-pemimpin daerah, wakil-wakil rakyat, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, tokoh adat dan sekecil apapun itu ketokohannya harus menanamkan dan menumbuh kembangkankan jiwa-jiwa luhur ini selama hayat dikandung bandan. Penanaman jiwa-jiwa ini harus dilakukan dengan baik dan intersif sesegera mungkin, dan dapat diatur melalui lembaga-lembaga tertentu. Dengan demikian, apa yang menjadi cita-cita besar kita sebagai rakyat Indonesia akan terwujud.

Mari kita wujudkan bersama…! Niat baik dan tujuan baik kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia melalui cara-cara yang baik, insyaallah niat baik kita akan mendapatkan keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa. Amiin.
 --------------------------------------------------------
Tulisan ini adalah sebuah opini yang ditulis oleh Mr.Fitrial di kompasiana.com, tulisan ini adalah suatu bentuk aspirasi politik seseorang, yang memandang indonesia dari sudut pandang dan analisis Mr.Fitrial, tujuan dari tulisan ini demi kemajuan bangsa indonesia, bukan untuk menghina atau menjatuhkan harkat dan martabat bangsa indonesia selain itu kritik yang termaktub didalam tulisan ini bernilai positif dan inspiratif. Tulisan ini juga sebagai wujud dari kebebasan bereskpresi seseorang

Penulis : Mr.Fitrial

0 komentar:

Posting Komentar

Kritik Yang Membangun